Merah yang Tidak Pernah Pudar
Lebih personal: “Alarm jam dua pagi, kopi yang mendingin, dan tim yang terus mengecewakan. Kisah tentang setia pada Manchester United ketika menang tak lagi jadi kebiasaan.”
Baca selengkapnya
Saya tidak ingat persis kapan mulai mencintai Manchester United. Yang saya ingat, ada televisi tabung di ruang tengah, suara komentator yang timbul tenggelam, dan malam Mei 1999 ketika dua gol di menit-menit akhir mengubah segalanya. Saya baru sebelas tahun. Saya belum paham apa itu treble, tapi saya paham satu hal: tim ini tidak pernah menyerah sampai peluit terakhir. Sejak malam itu, saya pun belajar untuk tidak menyerah pada mereka.
Menjadi fans United dari Indonesia artinya terbiasa begadang. Alarm jam dua pagi, mata setengah terpejam, kopi yang sudah dingin sebelum babak pertama selesai. Esok paginya tetap harus bekerja seperti biasa, dengan kepala berat dan hati yang entah sedang bahagia atau patah. Tidak ada yang membayar kami untuk itu. Kami melakukannya karena cinta, dan cinta memang jarang masuk akal.
Ada masa ketika semuanya terasa mudah. Gelar datang hampir setiap musim, dan kekalahan terasa seperti kecelakaan kecil. Lalu Sir Alex pensiun, dan pelan-pelan kami belajar arti kata “membangun ulang”, kata yang ternyata bisa berlangsung jauh lebih lama dari yang pernah kami bayangkan. Pelatih datang dan pergi. Pemain bintang dibeli lalu dijual. Teman-teman yang dulu mengejek saya karena terlalu sering menang, sekarang mengejek saya karena terlalu sering kalah.
Musim ini pun belum memberi banyak alasan untuk tersenyum. Tujuh pertandingan Liga Inggris sudah berlalu, dan United baru sekali menang. Kami tertahan di peringkat ke-13, lebih dekat ke zona degradasi daripada ke puncak klasemen. Musim dibuka dengan kekalahan dari tim promosi Hull City. Derby di Old Trafford pun lepas ke tangan City. Lalu, Rabu malam kemarin, kami harus menyaksikan tim kami dihancurkan Como 4-1 di Liga Champions. Sudah tujuh laga beruntun tanpa kemenangan, dan setiap pagi berita yang muncul selalu sama: Michael Carrick, legenda kami sendiri, kini berada di bawah tekanan untuk mempertahankan kursinya.
Ada malam-malam ketika saya bertanya pada diri sendiri, untuk apa semua ini? Untuk apa begadang hanya untuk kecewa lagi? Tapi setiap kali pertanyaan itu datang, jawabannya selalu sama. Saya tidak memilih United karena mereka selalu menang. Saya memilih mereka, atau mungkin mereka yang memilih saya, jauh sebelum saya mengerti apa itu kalah. Dan hari Minggu nanti, ketika United menjamu Bournemouth, saya akan kembali duduk di depan layar, berharap dengan cara yang sama seperti anak sebelas tahun itu berharap.
Tapi justru di masa-masa sulit inilah saya mengerti bahwa mendukung sebuah klub bukan soal trofi. Ini soal kesetiaan. Soal tetap memakai jersey merah ke tempat nongkrong setelah kekalahan memalukan. Soal tetap menyalakan televisi di pekan berikutnya, berharap kali ini berbeda, walau sering kali tidak.
United mengajarkan saya bahwa kejayaan bisa datang di menit ke-91, dan bahwa keterpurukan bukan akhir cerita. Klub ini pernah bangkit dari tragedi Munich, dari puluhan tahun tanpa gelar liga. Kalau mereka bisa bertahan, saya juga bisa bertahan bersama mereka.
Mungkin suatu hari nanti saya akan duduk di Old Trafford, mendengar ribuan suara bernyanyi bersama, dan menangis tanpa malu. Sampai hari itu tiba, saya akan tetap di sini: di depan layar, jam dua pagi, dengan hati yang sama merahnya seperti ketika saya berumur sebelas tahun.
Karena sekali United, selamanya United.

Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!