SASalman Alfarizi

Fariz

Salman Alfarizi

Indomie Seleraku

Saya biasa bekerja di bidang keuangan

Pencatatan & PembukuanPenagihan & InvoicePembayaran & Pelaporan PajakRekonsiliasi Kas & Bank
Foto Salman Alfarizi
Finance& Tax
Tentang saya

Rapi dalam angka, tepat dalam waktu

Saya bekerja sebagai staf keuangan yang menangani alur keuangan perusahaan dari hulu ke hilir: mencatat transaksi harian, menerbitkan invoice dan memantau penagihan, hingga memastikan kewajiban pajak dibayar dan dilaporkan tepat waktu.

Bagi saya, pekerjaan keuangan bukan sekadar mencatat angka. Setiap transaksi yang tercatat rapi membantu pimpinan mengambil keputusan, setiap invoice yang ditagih tepat waktu menjaga arus kas tetap sehat, dan setiap laporan pajak yang benar melindungi perusahaan dari risiko di kemudian hari.

Saya terbiasa bekerja teliti, tertib administrasi, dan menjaga kerahasiaan data keuangan. Saya juga senang memanfaatkan alat bantu digital untuk merapikan pembukuan dan laporan, sehingga informasi keuangan selalu tersedia saat dibutuhkan.

Bidang
Keuangan dan Akuntansi
Fokus
Transaksi harian, penagihan, dan perpajakan
Keahlian
Pembukuan, rekonsiliasi kas & bank, laporan keuangan
Bahasa
Indonesia, Inggris
Yang bisa saya bantu

Layanan

01

Pencatatan & Pembukuan

Mencatat transaksi kas dan bank setiap hari secara rapi dan tepat kategori, sehingga posisi keuangan selalu terkini.

Pilih layanan ini
02

Penagihan & Invoice

Menerbitkan invoice, memantau jatuh tempo, dan menindaklanjuti pembayaran klien agar arus kas tetap lancar.

Pilih layanan ini
03

Pembayaran & Pelaporan Pajak

Menghitung, menyetor, dan melaporkan PPN, PPh 21, PPh 23, dan PPh badan sesuai ketentuan dan tenggat waktu.

Pilih layanan ini
04

Rekonsiliasi Kas & Bank

Mencocokkan catatan pembukuan dengan rekening koran setiap bulan dan menelusuri setiap selisih.

Pilih layanan ini
05

Laporan Keuangan

Menyusun laporan laba rugi, neraca, dan arus kas bulanan maupun tahunan untuk kebutuhan manajemen.

Pilih layanan ini
06

Administrasi Keuangan

Mengelola dokumen pendukung transaksi, bukti potong, dan arsip keuangan agar tertib dan mudah ditelusuri.

Pilih layanan ini
Perjalanan

Pengalaman

2020 - Sekarang

Finance Staff

YADAHU

Melakukan pengaturan keuangan di Perusahaan

Catatan & publikasi

Tulisan

Merah yang Tidak Pernah Pudar

Lebih personal: “Alarm jam dua pagi, kopi yang mendingin, dan tim yang terus mengecewakan. Kisah tentang setia pada Manchester United ketika menang tak lagi jadi kebiasaan.”

Baca selengkapnya

Saya tidak ingat persis kapan mulai mencintai Manchester United. Yang saya ingat, ada televisi tabung di ruang tengah, suara komentator yang timbul tenggelam, dan malam Mei 1999 ketika dua gol di menit-menit akhir mengubah segalanya. Saya baru sebelas tahun. Saya belum paham apa itu treble, tapi saya paham satu hal: tim ini tidak pernah menyerah sampai peluit terakhir. Sejak malam itu, saya pun belajar untuk tidak menyerah pada mereka.

Menjadi fans United dari Indonesia artinya terbiasa begadang. Alarm jam dua pagi, mata setengah terpejam, kopi yang sudah dingin sebelum babak pertama selesai. Esok paginya tetap harus bekerja seperti biasa, dengan kepala berat dan hati yang entah sedang bahagia atau patah. Tidak ada yang membayar kami untuk itu. Kami melakukannya karena cinta, dan cinta memang jarang masuk akal.

Ada masa ketika semuanya terasa mudah. Gelar datang hampir setiap musim, dan kekalahan terasa seperti kecelakaan kecil. Lalu Sir Alex pensiun, dan pelan-pelan kami belajar arti kata “membangun ulang”, kata yang ternyata bisa berlangsung jauh lebih lama dari yang pernah kami bayangkan. Pelatih datang dan pergi. Pemain bintang dibeli lalu dijual. Teman-teman yang dulu mengejek saya karena terlalu sering menang, sekarang mengejek saya karena terlalu sering kalah.

Musim ini pun belum memberi banyak alasan untuk tersenyum. Tujuh pertandingan Liga Inggris sudah berlalu, dan United baru sekali menang. Kami tertahan di peringkat ke-13, lebih dekat ke zona degradasi daripada ke puncak klasemen. Musim dibuka dengan kekalahan dari tim promosi Hull City. Derby di Old Trafford pun lepas ke tangan City. Lalu, Rabu malam kemarin, kami harus menyaksikan tim kami dihancurkan Como 4-1 di Liga Champions. Sudah tujuh laga beruntun tanpa kemenangan, dan setiap pagi berita yang muncul selalu sama: Michael Carrick, legenda kami sendiri, kini berada di bawah tekanan untuk mempertahankan kursinya.

Ada malam-malam ketika saya bertanya pada diri sendiri, untuk apa semua ini? Untuk apa begadang hanya untuk kecewa lagi? Tapi setiap kali pertanyaan itu datang, jawabannya selalu sama. Saya tidak memilih United karena mereka selalu menang. Saya memilih mereka, atau mungkin mereka yang memilih saya, jauh sebelum saya mengerti apa itu kalah. Dan hari Minggu nanti, ketika United menjamu Bournemouth, saya akan kembali duduk di depan layar, berharap dengan cara yang sama seperti anak sebelas tahun itu berharap.

Tapi justru di masa-masa sulit inilah saya mengerti bahwa mendukung sebuah klub bukan soal trofi. Ini soal kesetiaan. Soal tetap memakai jersey merah ke tempat nongkrong setelah kekalahan memalukan. Soal tetap menyalakan televisi di pekan berikutnya, berharap kali ini berbeda, walau sering kali tidak.

United mengajarkan saya bahwa kejayaan bisa datang di menit ke-91, dan bahwa keterpurukan bukan akhir cerita. Klub ini pernah bangkit dari tragedi Munich, dari puluhan tahun tanpa gelar liga. Kalau mereka bisa bertahan, saya juga bisa bertahan bersama mereka.

Mungkin suatu hari nanti saya akan duduk di Old Trafford, mendengar ribuan suara bernyanyi bersama, dan menangis tanpa malu. Sampai hari itu tiba, saya akan tetap di sini: di depan layar, jam dua pagi, dengan hati yang sama merahnya seperti ketika saya berumur sebelas tahun.

Karena sekali United, selamanya United.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Komentar tampil setelah disetujui penulis.

Kota Ini Lagi

"Ada kota yang dikunjungi bukan untuk mencari hal baru, melainkan untuk menemukan kembali diri sendiri. Bagi saya, kota itu adalah Yogyakarta.”

Baca selengkapnya

Entah sudah keberapa kali saya kembali ke Yogyakarta. Saya berhenti menghitung sejak lama. Setiap kali kereta melambat menjelang Stasiun Tugu, ada suara kecil di kepala yang berbisik: kota ini lagi. Anehnya, bisikan itu tidak pernah terdengar bosan. Lebih mirip seseorang yang menyapa rumah lamanya.

Biasanya saya memulai dari yang paling tua. Pagi-pagi sekali saya berangkat ke Borobudur, sedikit ke luar kota, di Magelang, ketika kabut masih menyelimuti bukit-bukit di sekitarnya. Saya menapaki tangganya pelan, melewati relief demi relief yang dipahat lebih dari seribu tahun lalu, lalu berdiri di antara stupa sambil memandang Merapi dari kejauhan. Di tempat seperti itu, semua urusan yang saya bawa dari Jakarta terasa kecil. Tenggat waktu, rapat, dan notifikasi yang tak ada habisnya mendadak tidak penting lagi.

Di lain kesempatan, saya memilih Prambanan menjelang sore. Candi-candinya menjulang runcing, berwarna keemasan ketika matahari mulai turun. Saya suka duduk sebentar di rumputnya, membiarkan angin sore lewat, dan membayangkan bagaimana orang-orang dulu membangun semua ini tanpa mesin, hanya dengan tangan, keyakinan, dan kesabaran.

Malamnya, saya hampir selalu menyempatkan diri ke Purawisata. Gamelan mulai ditabuh, lampu panggung menyala, dan kisah Rama dan Sinta kembali dimainkan tanpa satu kata pun diucapkan. Saya sudah tahu jalan ceritanya. Saya tahu Sinta akan diculik, Hanoman akan membakar Alengka, dan cinta akan diuji. Tapi setiap kali menontonnya, saya tetap terhanyut. Mungkin karena beberapa cerita memang tidak perlu baru untuk bisa menyentuh hati.

Ada juga waktu-waktu yang lebih santai. Pagi atau sore, saya pergi ke driving range, mengayunkan stik, memukul bola demi bola sejauh yang saya bisa. Pukulan saya tidak selalu bagus, tapi bukan itu tujuannya. Setiap ayunan terasa seperti melepaskan sedikit beban yang terbawa dari kota.

Lalu tentu saja, mangut lele Mbok Marto. Saya masih ingat pertama kali masuk ke dapurnya yang berasap, mengambil sendiri lauk dari tungku kayu, dan duduk di bangku sederhana dengan sepiring nasi panas. Kuahnya pedas, gurih, dan beraroma asap. Rasanya bukan sekadar enak. Rasanya seperti makan di rumah nenek yang tidak pernah saya punya di kota ini, tapi entah kenapa terasa begitu akrab.

Sebelum pulang, saya selalu menyisakan waktu untuk berjalan kaki tanpa tujuan pasti. Menyusuri Malioboro, keluar masuk toko, menawar sedikit, membeli bakpia untuk orang rumah, batik untuk diri sendiri, dan pernak-pernik kecil yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Tapi oleh-oleh dari Jogja memang bukan soal barangnya. Oleh-oleh itu cara kecil untuk membawa pulang sepotong kota ini.

Saya sering ditanya, “Ke Jogja lagi? Memangnya tidak bosan?” Saya biasanya hanya tersenyum. Bagaimana menjelaskan bahwa ada kota yang tidak pernah kita kunjungi untuk mencari hal baru, melainkan untuk menemukan kembali diri kita yang lama? Yogyakarta selalu menyambut dengan cara yang sama: hangat, pelan, dan tanpa banyak tanya.

Dan selama kota ini masih mau menerima saya, saya akan terus kembali. Lagi, dan lagi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Komentar tampil setelah disetujui penulis.

Angka di Hari Kerja, Rasa di Akhir Pekan

Perkenalan singkat tentang saya: bekerja di bidang keuangan, suka berolahraga, jalan-jalan, berburu kuliner, dan selalu penasaran mengenal daerah serta bidang pekerjaan baru.

Baca selengkapnya

Halo, saya Salman Alfarizi. Sehari-hari saya bekerja di bidang keuangan: mencatat transaksi, mengurus penagihan, dan memastikan urusan pajak beres tepat waktu. Pekerjaan ini menuntut ketelitian, dan saya menikmatinya. Ada kepuasan tersendiri ketika semua angka cocok dan laporan selesai rapi.

Tapi hidup tentu bukan hanya soal angka. Di luar jam kerja, saya suka bergerak. Olahraga menjadi cara saya menjaga badan tetap bugar sekaligus menjernihkan pikiran setelah seharian berhadapan dengan laporan.

Saya juga senang jalan-jalan, terutama mengeksplorasi daerah yang belum pernah saya datangi. Setiap tempat punya cerita, dan cara paling enak untuk mengenalnya adalah lewat makanannya. Dari warung kaki lima sampai kuliner khas daerah, saya selalu penasaran mencicipi rasa lokal dan mendengar cerita di baliknya.

Rasa penasaran itu juga saya bawa ke dunia kerja. Saya suka belajar tentang bidang pekerjaan lain, mengenal cara orang bekerja di luar dunia keuangan, dan mencari hal-hal baru yang bisa memperluas cara pandang saya.

Lewat website ini, saya ingin berbagi cerita, baik soal pekerjaan maupun pengalaman menjelajah tempat dan rasa. Terima kasih sudah mampir, dan semoga ada yang bermanfaat untuk Anda.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Komentar tampil setelah disetujui penulis.

Kenapa saya suka lari

Dari Ngos-ngosan Jadi Ketagihan: Cerita Lari Saya

Baca selengkapnya · 1 komentar

Saya suka lari karena dua hal: badan jadi lebih sehat, dan kepala jadi lebih ringan. Saya bukan pelari cepat. Pace saya santai, dan tujuan saya bukan podium. Saya lari tiga sampai empat kali seminggu, cukup untuk membuat lari jadi bagian dari hidup, bukan acara sesekali. Awalnya terasa berat. Lima menit pertama napas sudah ngos-ngosan dan kaki terasa kaku. Tapi setelah beberapa minggu, ada yang berubah. Lari tidak lagi terasa seperti kewajiban, malah jadi waktu yang saya tunggu.

Untuk kesehatan Lari adalah cara paling sederhana yang saya temukan untuk merawat badan. Tidak perlu alat mahal atau keanggotaan gym. Cukup sepatu yang nyaman dan kemauan untuk keluar rumah. Yang saya rasakan sejak rutin lari: • Napas lebih panjang. Naik tangga atau jalan jauh tidak lagi bikin cepat capek. • Tidur lebih nyenyak. Setelah lari, badan terasa lelah dengan cara yang enak, dan tidur jadi lebih berkualitas. • Berat badan lebih terjaga. Lari membakar kalori, dan pelan-pelan membantu saya menjaga lingkar perut. • Badan lebih bertenaga. Anehnya, justru setelah lari saya merasa lebih segar untuk bekerja. Lari bukan obat ajaib. Tapi kalau dilakukan rutin dan bertahap, manfaatnya terasa nyata.

Untuk melepas stres Ini alasan yang paling saya rasakan. Pekerjaan, tenggat waktu, dan urusan sehari-hari kadang menumpuk di kepala. Saat lari, semua itu seperti diberi jeda. Selama lari, yang saya pikirkan cuma napas, langkah, dan jalan di depan. Tidak ada notifikasi, tidak ada rapat. Sering kali, masalah yang tadinya terasa ruwet justru ketemu jalan keluarnya di tengah lari. Selesai lari, perasaan juga jadi lebih baik. Ada rasa puas karena sudah menepati janji ke diri sendiri. Hal kecil, tapi efeknya terbawa sampai sepanjang hari.

Ada yang mau lari bareng saya? Lari sendiri itu menyenangkan, tapi lari bareng teman jauh lebih seru. Ada yang menyemangati, ada teman ngobrol, dan lebih susah untuk bolos. Kalau kamu baru mau mulai, jangan khawatir soal kecepatan. Pace saya santai, dan saya senang menemani yang baru belajar. Jadi, ada yang mau lari bareng saya? Tinggalkan komentar atau kirim pesan, nanti kita atur jadwal dan rutenya.

Komentar (1)

yuli22 Oktober 2026, 09.48 WIB

gas lari

Salman AlfariziPenulis22 Oktober 2026, 09.48 WIB

gas

Komentar tampil setelah disetujui penulis.

Kontak

Mari berbincang.

Untuk kerja sama, undangan berbicara, atau sekadar bertukar pikiran, silakan hubungi saya melalui kontak berikut.

Telepon085157534411
WhatsApp085157534411
KotaJakarta Timur